
KARANGANYAR, — Sekitar 100 pengurus dan anggota menghadiri pengajian dan doa bersama perdana yang digelar Organisasi Masyarakat Giribangun Indonesia Maju (GIM), Muslimat NU dan Perjuangan Walisongo Indonesia (PWI) cabang Karanganyar. Acara berlangsung di Pendopo Monumen Ibu Tien Soeharto, Jaten, Kabupaten Karanganyar, pada Minggu malam (28/6/2026) sejak pukul 19.30 hingga 22.30 WIB.
Kegiatan ini diinisiasi sebagai wujud sinergi kedua ormas GIM dan Muslimat NU serta PWI cabang Karanganyar untuk memperkuat ideologi kebangsaan. Sekretaris Jenderal GIM, Teguh Haryono, SH, M.Si, mengatakan acara lahir dari kesamaan visi menjaga Pancasila dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia juga mengumumkan bahwa pengajian dan doa bersama ini akan digelar rutin setiap selapanan (35 hari).
“Di masa pemerintahan almarhum HM Soeharto, Nahdlatul Ulama menjadi mitra strategis dalam menjaga keutuhan NKRI. Hal ini menjadi dasar kolaborasi kami sekarang,” ujar Teguh Haryono. Disamping itu Ketua Muslimat NU Suliastuti, S. Pd. M. Pd. dalam sambutannya juga mengatakan bahwa GIM dan Muslimat NU mempunyai tujuan yang sama sebagaimana yang disampaikan oleh sekjen GIM.
Ketua PWI Kabupaten Karanganyar, Prof. Dr. Abdul Aziz, menyatakan kegiatan sejalan dengan visi PWI dan penting untuk memperkuat narasi sejarah kebangsaan. “Ini upaya bersama agar tidak terjadi pembelokan sejarah yang dapat membahayakan keutuhan NKRI,” tegasnya.
Rangkaian acara meliputi sambutan pimpinan ormas, doa, zikir, dan tahlil untuk almarhum HM Soeharto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto. Penampilan hadrah dari anggota GIM mengiringi pembacaan sholawat nabi, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dibawakan bersama, menciptakan suasana religius dan nasionalis.
Panitia menyatakan antusiasme tinggi dari peserta dan berencana memperluas kolaborasi serupa hingga wilayah Soloraya untuk memperkuat sinergi kebangsaan dan dakwah.
Pengajian Perdana di Pendopo Monumen Ibu Tien: GIM dan PWI Karanganyar Perkuat Narasi Kebangsaan. (GRIBPOS)
